Erik bersama peneliti di Denmark

Tulisan ini di Persembahkan untuk seorang Warga Negara Denmark yang memberikan sumbangsih ilmu hingga akhir hayatnya. Untuk Kalimantan Selatan dan  Kedutaan Besar Denmark di Indonesia.

Erik Petersen. Mungkin tidak banyak Urang Banua yang mengenalnya. Berbeda dengan di daratan Eropa. Mulai Laut Baltik hingga Kepulauan Faroe, namanya begitu tenar lewat karya monumentalnya yang mendunia. Ya, dialah si “kai asing”, warga Banua Anyar Banjarmasin. Si penulis buku Jukung Boats from the Barito Basin, Borneo yang terbit tahun 2000. Karya yang menjadi rujukan utama akademisi Eropa dan Asia dalam kajian sejarah maritim, arkeologi laut, dan arkeologi eksperimental.

Goresan tintanya memberi banyak spektrum dalam dunia akademis, khususnya kajian maritim. Berkat tangan dinginnya juga, perahu tradisional Kalimantan, Jukung Borneo bisa hadir dalam pameran kelas dunia di Denmark tahun 2000an. Wajar jika atensinya patut ditulis dalam tinta emas. Kai (kakek) asal Denmark ini berjasa besar memperkenalkan jukung, karya urang Banua di bidang transportasi perairan ke pentas internasional, khususnya di Benua biru.

Reflika perahu dari relief Candi Borobudur yang dibuat oleh Erik

Erik Petersen, adalah seorang arsitek-perencana. Kelahiran Denmark, tahun 1930. Petersen mulai bekerja tahun dari tahun 1956 hingga pensiun pada tahun 1992. Beliau bekerja di tiga negara yakni Denmark, Afrika Timur, dan Indonesia. Kemudian menetap di Kalimantan selatan (Banjarmasin) sejak tahun 1992, ketika memasuki masa pensiun.

Erik saat menulis di depan rumahnya di Banua Anyar, Banjarmasin

Mengapa Erik menetap di Kota Seribu Sungai? Karena terkesan dan tertarik dengan industri pembuatan kapal tradisional Jukung. Selain itu penelitian jukung ini sekaligus mengisi masa pensiunnya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Empat tahun kemudian (1996), The Viking Ship Museumn Roskilde, Denmark menggagas proyek etnografis. Khususnya yang berhubungan dengan tradisi pembuatan perahu pada sungai-sungai di berbagai belahan dunia.

Beberapa tahun sebelumnya, The Viking Ship Museum (1991) pernah menerbitkan sebuah buku tentang perahu dari suku di Borneo Utara berjudul Building A Longboat: An Essay On The Culture And History Of A Bornean People oleh Ida Nicolaisen dan Tinna Damgard Sorensen. Terbitnya buku inilah yang kemudian mendorong The Viking Ship Museum mengagas proyek lagi dan berjanji untuk mempublikasikan materi yang mampu diselesaikan penulis sesuai rencana.

Erik Petersen mengobrol dengan teman diatas perahu motor (kelotok)

Viking Ship Museum atau dalam Bahasa Danish dikenal Vikingeskibsmuseet di Roskilde adalah museum nasional Denmark untuk kapal, pelayaran dan pembuatan kapal di periode prasejarah dan abad pertengahan. Museum Kapal Viking juga melakukan penelitian dan mendidik para peneliti di bidang sejarah maritim, arkeologi laut, dan arkeologi eksperimental.

Berbagai konferensi akademik diadakan di sini dan ada perpustakaan penelitian yang berhubungan dengan museum. Museum Kapal Viking memiliki tradisi panjang dari rekonstruksi kapal Viking dan pembangunan kapal hingga mengumpulkan perahu yang menarik dari seluruh wilayah Skandinavia.

Viking menggunakan batang pohon yang dilubangi untuk membuat perahu mereka, dimana dibuat lebih tinggi dengan penambahan papan di sisi-sisinya; tetapi proses konstruksi tertua ternyata tidak didokumentasikan. Viking Ship Museum kemudian mendukung serangkaian proyek etnografi tentang perahu di seluruh dunia, dengan harapan bahwa tradisi membangun perahu di tempat lain dapat menjelaskan hal ini.

Erik pun terpilih menjadi peneliti dari proyek yang digagas museum terkenal negeri The Little Mermaid ini. Dalam menjalankan risetnya, Erik memang selalu tampil dengan ciri khasnya, sederhana. Suka bertelanjang dada, lengkap dengan kacamata khas. Pensiunan arsitek ini suka naik sepeda ke mana-mana. Menyusuri jalan di sudut sudut Kota Seribu Sungai yang jadi objek risetnya.

Erik bersama sahabat memegang bendera Denmark

Pekerjaan lapangannya memang dilakukan di tiga lokasi. Pertama, di sepanjang Sungai Mangkutup dan Muroi; kedua, di Desa Manusop dan Sungai Dusun dan ketiga di Alalak. Dia juga sempat mengunjungi Candi Borobudur dan mampu menggunakan sebagai bukti beberapa penggambaran perahu yang ditemukan di sana. Buku Jukung-Boats from the Barito Basin, Borneo mulai ditulis Erik sejak Desember 1998.

Erik saat menyampaikan sambutan pada acara peragaan pembuatan jukung barito di Museum Bahari, Jakarta

AVM Horton, dalam review buku Erik Petersen, 2000, Jukung-Boats from the Barito Basin, Borneo, dalam Borneo Research Bulletin, 1 Januari 2009 menjelaskan bahwa hasil penelitian Petersen, dituangkan dalam buku berjudul “Jukung-Boats from Barito Basin, Borneo”. Berjenis Hardcover dan terdiri dari 157 halaman. Diterbitkan Viking Ship Museum, Roskilde pada bulan Desember, tahun 2000, berbahasa Inggris. Kata pengantar buku ditulis Tinna Damgird Sorensen, sang Direktur Viking Ship Museum.

Selain itu, Erik juga mengadakan Pameran Peragaan Pembuatan Jukung Barito di Museum Bahari Jakarta, 23 Desember tahun 2002, dalam skala nasional. Sementara di tingkat internasional, Mawardi (2014) menuliskan bahwa jasa Erik Petersen telah melakukan pameran jukung secara akbar di Eropa.

Banyak tantangan yang dihadapi memang dalam mewujudkan pamerannya. Tetapi kata motivasi dari Sören Kierkegaard, Filsuf Denmark (1813-1855), “Hidup bukanlah sebuah masalah yang harus diatasi, tapi realita yang harus dijalani”, selalu menjiwainya .

Pembuatan Jukung Barito oleh warga Banjar di Museum Bahari

Dengan susah payah ia harus melampaui bagaimana birokrasi kepabeanan Indonesia yang lumayan “ribetnya”, hanya untuk mengangkut jukung Borneo. Tujuannya, agar dapat mengikuti pameran Viking Ship Museum Roskilde di Denmark dan Belanda. Berhasil. Wajah pengrajin jukung dan kapal di kawasan Alalak pun terpampang di sana. Fremragende! (hebat!)

Ini bukan isapan jempol. Dalam situs The Viking Ship Museum mengakui pihaknya pernah mengadakan pameran yang berlangsung akbar yakni Exhibitions Jukung Boats from Barito Basin, Borneo. Diadakan tahun 2000 bekerjasama dengan arsitek perencana kota (in collaboration with city planner), Erik Petersen. Disponsori oleh Velux Foundation.

Mengenai kehidupan pribadinya juga menarik. Erik Petersen yang kemudian menjadi muslim, bernama Haji Arif Faturrahman. Bagi masyarakat setempat biasa dipanggil dengan kai asing atau Kai Jukung. Erik sebelumnya memang sempat menikah dua kali dengan wanita Denmark. Walaupun kemudian bahtera perkawinannya kandas. Erik dikaruniai 3 orang anak di negeri Skandinavia ini.

galangan jukung di alalak, banjarmasin

Saat berada di Indonesia dan meneliti Jukung, hati Erik kemudian tertambat pada sosok wanita asal Kalimantan Tengah, Mastun Kasran. Erik seakan berkata dalam Bahasa Danish, “Jeg kan godt lide det” (Saya menyukainya). Setelah menikah, mereka lalu menetap di Banua Anyar, Kota Banjarmasin. mereka menikah dari tahun 1982 hingga akhir hayatnya. Tahun 2005, Erik menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjuang menghadapi penyakit ginjal yang dideritanya.

Satu hal yang patut diacungi jempol. Sampai akhir hayatnya pun, penelitian pria nyentrik ini terhadap beragam jenis perahu atau jukung khas Kalimantan terus dilakoni. Bisa dikatakan kalau jukung memang sudah menjadi bagian dari denyut nadinya.

Erik Petersen secara detail menggambarkan jenis jukung di Sungai Barito beserta bahan-bahan dasar dan cara pembuatannya. Di dalam buku yang ia tulis, juga tercantum beberapa macam jukung Suku Banjar secara detil. Adapun jenis jukung tersebut adalah Jukung Sudur Jukung Rangkan, Jukung Patai, Jukung Hawaian, Alkon, Jukung Rombong, Klotok Halus, Feri, Klotok Baangkut Barang, Jukung Nalayan, Jukung Tiung, Jukung Raksasa serta Motorbot.

Erik bersama Lass sahabat yang mengantarnya kembali ke Banjarmasin sebelum ia meninggal dunia
replika perahu phinisi orang Pagatan yang dibuat oleh Erik

Erik Petersen memaparkan bahwa orang Banjar telah lama menguasai teknologi pembuatan perahu (jukung). Keahlian ini diwarisi mereka dari nenek moyang orang Banjar, yakni Dayak Maanyan. Makanya, Erik Petersen berkesimpulan jika penduduk asli Madagaskar yang merupakan wilayah kepulauan di Samudera Hindia, pesisir timur Afrika adalah para migran Dayak Maanyan.

Jukung merupakan perahu tertua dan telah ada sejak 2.500 tahun silam. Jukung paling sederhana itu dibuat dari batang kayu utuh yang dibelah menjadi dua dan dikerok menggunakan perkakas dari batu. Salah satu bukti yang mendukung anggapan ini adalah ditemukannya peti mati dari kayu yang bentuknya mirip jukung sudur di Goa Niah, Sarawak, Malaysia.

Terima kasih Kai Asing, sang pria Denmark. Sudah membawa Jukung dari Sungai Barito hingga ke Laut Baltik. Mengenalkan jukung dari Barito Basin di Asia hingga ke Benua biru. “Tusind Tak!” (terima kasih banyak) sudah mendayung perahu Jukung Barito ke negeri impian di pentas Dunia. Jangan pernah mengatakan “lad mig være” (biarkan saya sendiri), karena kami disini bersamamu.

 

oleh : Mansyur, S.Pd, M.Hum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *