BAGI yang pernah berkunjung ke Negeri Tulip (Belanda), pasti tidak asing lagi dengan nama Desa Amerongen. Sebuah desa di provinsi Utrecht, Belanda. Desa ini bagian dari kotamadya Utrechtse Heuvelrug, terletak di sekitar Amerongse Berg dekat Nederrijn, di sebelah tenggara wilayah ini. Utrechtse Heuvelrug sekarang menjadi taman nasional. Amerongen berpenduduk 5.166 jiwa berdasarkan sensus pada awal tahun 2015.

 

Keindahan lanskap alam wilayah Amerongen, Belanda yang direkam lewat foto F.F. Kuiper pada Abad 19. Sumber: De Amerongshe Courant, 20 Augustus 1891.

Banyak hal menarik di Amerongen. Sebut saja Kasteel Amerongen, yang terletak persis di sebelah selatan desa. Bangunan ini dihancurkan sewaktu Perancis pada tahun 1672. Kaisar terakhir Jerman Wilhelm II tercatat menghabiskan satu setengah tahun di istana sebelum pindah ke Huize Doorn. Pada tanggal 28 November 1918 ia menandatangani janji pengabdiannya di Castle Amerongen. Selain memiliki banyak kanal, di wilayah sekitar Amerongen juga terdapat lanskap alam seperti Amerongse Berg, Hazenberg, Vlakke Berg, Geerenberg, Zuilensteinse Berg dan Galgenberg.

 

Wilayah Amerongen dalam lukisan koleksi Schoemaker, berjudul Amerongen, Utrecht pada Abad 19.

Setidaknya, catatan historis maupun keindahan lanskap alam inilah yang menginspirasi munculnya penamaan yang sama bagi beberapa tempat di Hindia Belanda. Diantaranya, Benteng Amerongen, tempat pertahanan yang diserang oleh Tuanku Tambusai tahun 1833 dalam perangnya terhadap pendudukan kolonial di daerah Rao dan Mandailing (Sumatera).

 

Kemudian di Banjarmasin, Borneo (Kalimantan) bagian selatan. Pada masa Hindia Belanda, juga terdapat nama yang dikenal dengan kampung Amerongen atau Amerong. Idwar Saleh (1981) menuliskan, nama Kampung Amarong/Amerong/Amerongen diambil dari nama sebuah desa di negeri Belanda dekat Utrecht. Kampung ini bersebelahan dengan Pulau Tatas, dimana terdapat Benteng/Fort Tatas (sekarang Masjid Raya Sabilal Muhtadin). Sementara lokasi Kampung Amerong sekarang diperkirakan sekitar eks Gubernuran Kalimantan Selatan di Jalan Sudirman.

 

Uniknya, ketenaran nama Amerongen juga didukung munculnya sederet klan keluarga dari Amerongen yang pernah berkarir di Hindia Belanda sebagai ambtenaar. Diantaranya W.F.H. van Amerom (West Coast of Sumatra–Governor), Baron Henri Robert Joost Waldemar Taets van Amerongen (meninggal 16 October 1920 di Soerabaja), Baron Jan Willem Adriaan Taets van Amerongen (meninggal 18 September 1944 di Bengkulu), Barones Xenia Anna Maria Taets van Amerongen (lahir di Jogjakarta dan meninggal 16 January 1975 di Hilversum), serta tokoh lainnya. Demikian dicatat Jan van Riebeeck zijn voor en nageslacht Den Haag, 1952.

 

Lokasi Negeri Tatas pada Peta Abad 18. Sumber: Repro Peta Kaart van de Rivieren Banyermassigh en Kaijoe Tanghin, tot boven de negorij Tatas op de Zuidkust van Borneo, tahun 1700-1720.

Pada sumber lainnya, dipaparkan tokoh dari Amerongen terkenal adalah anggota resimen pasukan elit The Dutch Indian Brigade, Letkol G.G. Baron Taets van Amerongen. Pasukan ini berangkat ke Hindia Belanda pada bulan Otober dan November 1815. Kemudian tercatat nama korban perang tahun 1943 yang dibunuh tentara pendudukan Jepang di Tatas, Banjarmasin yakni Albert Lodewijk Alexander van Amerom (1889-1943).

 

Kembali ke pembahasan asal, catatan tertua tentang nama Kampung Amerong, Banjarmasin muncul pada tahun 1756 ketika Belanda mendirikan benteng dari kayu yang diberi nama Fort Tatas. Urang Banjar umumnya menggelari benteng ini dengan nama loji (dari Bahasa Belanda: Loge) sehingga bernama Kampung Loji. Selain Kampung Loji terdapat kampung lain seperti Kampung Cina, Kampung Antasan (besar dan kecil) hingga Kampung Amarong (Amerongen).

 

Pada tahun 1838 kampung-kampung di wilayah ibu kota Banjarmasin (kota gubernemen) ialah Kampung Cina, Kampung Loji, Antasan Besar, Amarong, dan Dekween yang meliputi Kampung Gayam, Banyiur, Antasan Kecil, Rawa Kween, Binjai, Jawa Baru, Sungai Baru, Pekapuran, Kelayan Besar, Bagau, Bahaur, Basirih dan Van Thuijl. Jumlah penduduknya sekitar 300 jiwa seperti tercatat dalam sumber sezaman, Tijdschrift voor Neerland’s Indie (Jurnal Hindia Timur) tahun 1838.

 

 

Peta Banjarmasin

Dalam perkembangannya, tahun 1849, Idwar saleh (1981), juga mencatat bahwa Kampung Amarong menjadi tempat kediaman Resident Belanda di Banjarmasin. Pada bagian depan rumah residen, sesudah halaman dan jalan (Resident de Haan Wee/Hanweeg) mengalir sungai Martapura. Amerongan merupakan kampung terbesar di seberang Kampung Sungai Mesa pada saat itu. Pembangunan rumah residen ini adalah kebijakan yang diambil Raad van Indie setelah terbitnya Staatblad (Lembaran Negara) Tahun 1849. Dalam lembaran negara tersebut juga dipaparkan bahwa Banjarmasin (Pulau Tatas) menjadi ibukota Divisi Selatan dan Timur Borneo (Borneo Zuid en Ooster Afddeling).

Pieter Johannes Veth (1869) menuliskan Amarong, adalah distrik di wilayah Bornéo’s Zuid-en-Oosterafedeling, di Tatas, kota Bandjermasin. Demikian halnya dimuat dalam Aardrijkskundig en statistisch woordenboek van Nederlandsch Inde. Rumah-rumah milik kantor pemerintah, seperti kantor, gudang garam dan batu bara, terdiri dari bangunan yang terbuat dari bambu atau kayu.

 

Sebagai bagian dari strategi politik, Pemerintah Hindia Belanda mulai menerapkan segregasi (pemisahan) pemukiman penduduk berdasarkan etnik. Pusat benteng pertahanan terletak di Tatas. Selanjutnya sebagai pusat kota adalah pemukiman warga Eropa, khususnya di Jalan Resident de Haanweg (Jalan Lambung Mangkurat). Sementara pemukiman tentara Belanda dipusatkan Kampung Amerongan. Wilayah pemukiman lain yang berdekatan adalah wilayah pemukim dari etnis Jawa dengan sebutan Kampung Jawa.

 

Kemudian di seberangnya, terdapat pemukiman di tepian Sungai Martapura (sekarang Jalan Pierre Tendean) yang disebut Chineezen Kamp atau Kampung Pecinan. Sementara di wilayah Pasar Lama, dihuni etnis asal Sulawesi yakni Kampung Bugis. Selanjutnya, wilayah Antasan Kecil Barat yang menjadi kawasan kediaman etnis Arab (Kampung Arab), serta beberapa kampung lainnya.

 

Pemukiman kalangan Eropa di wilayah Kampung Amerongen, Banjarmasin.

Pembangunan rumah Residen di Kampung Amerongan, yang di sebelah hilirnya terdapat benteng Tatas, memang cukup strategis. Pemerintah Hindia Belanda dapat melakukan pengawasan terhadap aktivitas Sultan Tamjidullah II yang bermukim di istana (Dalem) Kampung Keraton (Sungai Mesa). Kampung Keraton ini adalah nama awal sebelum diubah menjadi Kampung Sungai Mesa yang didirikan Kiai Maesa Jaladri (Anang putera Tumenggung Suta Dipa). Pada kampung Sungai Mesa juga terdapat kediaman Menteri Besar Kiai (Mesa) Maesa Jaladri dan Balai Kaca.

 

Kampung Amerong pada dekade tahun 1900an, tidak hanya ditempati oleh Residen, tetapi menjadi lokasi pemukiman atau perkampungan Eropa alias “kulit putih”. Cukup pantas jika Pemerintah Hindia Belanda memberlakukan kebijakan penanaman pepohonan di sepanjang jalan tersebut sehingga hijau dan rindang. Pada masa Hindia Belanda (di sekitar lokasi Pembangunan Tugu Nol Kilometer Banjarmasin sekarang), terdapat tugu Peringatan Perang Banjar. Tugu dengan arsitektur kolonial bergaya gothic ini sebagai simbol kemenangan Pemerintah Hindia Belanda pada Perang Banjar dalam versi dokumen Belanda hanya berlangsung empat tahun (1859-1863).

 

Kantor Residen pada wilayah Kampung Amerongen, Banjarmasin.

Pada tahun 1918-1919, Banjarmasin selain sebagai ibukota Residentie Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo juga berstatus Gemeente-Raad. Karena itulah, jalan di Kampung Amerong diperbaiki. Terdapat versi pendapat bahwa nama jalan yang melintas di Kampung Amerong ini dinamakan Jalan Karel van de Heijden. Berdasarkan Peta Kota Besar Bandjarmasin yang dibuat tahun 1970-an, setelah masa kemerdekaan jalan ini berubah nama menjadi Jalan Tugu dan terakhir bernama Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Antasan Besar, Kecamatan Banjarmasin Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *