Malabuh merupakan tradisi Masyarakat Banjar yang percaya bahwa Datu, Kakek atau turunannya memiliki hubungan dengan makhluk gaib “Buaya Kuning, Buaya Putih atau Naga Laki dan Naga Bini” . Tradisi ini sangat sulit untuk kita temukan di Banjarmasin , saat berkeliling untuk dalam rangkaian menuju Festival Kolaborasi Nyawa Sungai Banjarmasin Masa Depan saya dan kawan kawan bertemu dengan sosok Ibu Mastiah yang sedang menyiapkan bahan atau sesaji untuk tradisi Melabuh dalam rangka persiapan upacara Mandi Mandi Hamil 7 Bulanan dan Malabuh Tahunan untuk Keluarga yang memiliki ikatan dengan makhluk gaib tersebut.

Dalam Tradisi Malabuh ini sesaji di peruntukkan untuk makhluk gaib “Buaya Kuning” isi dari sesaji ini adalah Upung (Mayang Kandung dari Pohon Pinang) melambangkan Badan , Bogam (Rangkaian Bunga Melati Kenanga dan Mawar) yg melambangkan Telinga, Pisang Mahuli yang melambangkan gigi, Ketan Kuning dan Telur Ayam Kampung yang melambangkan Perut dan Pusar serta Sasuap (Bungkusan Daun Sirih, Kapur, Buah Pinang, Rokok dari Tembakau dan Daun Nipah). Sesaji ini melambangkan Lima Rukun Islam artinya tradisi tradisional Banjar memiliki ikatan kuat dengan tradisi Islam.

Menurut Ibu Mastiah tradisi malabuh ini adalah suatu kewajiban turun temurun keluarganya yg memiliki ikatan dengan makhluk gaib tersebut dan ini dilakukan setiap setahun sekali bagi orang dewasa, untuk mandi mandi 7 bulanan saat hamil, dan saat bayi umur 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan dan 12 bulan.

Tradisi yang mencerminkan begitu kayanya tradisi Banjar dan Indonesia.

Kami Bahagia dan Bangga bisa mengenal sosok ibu Mastiah, terima kasih cerita dan pengetahuannya.

 

oleh Rezh Muhammad

Photo Oleh RDS Photography

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *