Apakah Anda penggemar movie? Tentunya tidak asing lagi dengan film Planet of the Apes. Franchise tertua yang diangkat dari novel Prancis yang digubah Pierre Boulle. Judulnya La Planète des Singes atau diterjemahkan dengan Planet of the Apes. Hingga saat ini, terdapat sembilan film Planet of the Apes yang dibagi menjadi tiga seri yaitu original movie series, remake, dan new reboot. Film karya sutradaara Matt Reeves ini mengisahkan pemimpin koloni kera bernama Caesar untuk menjalani pertempuran maha dahsyat dengan manusia.

Kera atau dalam bahasa Inggris disebut “apes”, memang menjadi inspirasi sepanjang masa, baik dalam cerita fiksi novel hingga adegan film. Kera hampir ada di seluruh belahan dunia. Bahkan keberadaannya menjadi daya tarik.

Seperti di Pulau Kembang, Kalimantan Selatan. Pulau Kembang malah menjadi primadona, objek wisata andalan yang sering dikunjungi travelling setelah Pasar Terapung, Kuin. Secara administratif Pulau Kembang termasuk wilayah Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala. Akan tetapi dari segi keletakan wilayah, lebih dekat dengan Kota Banjarmasin bagian barat. Dalam teori kealaman, pulau yang terletak di tengah Sungai Barito ini pada dasarnya adalah sebuah delta yang terbentuk alami.

Pulau Kembang merupakan hutan wisata di kawasan konservasi dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan. Luasnya 60 Hektar. Pulau Kembang tidak dihuni manusia namun didominasi oleh fauna seperti kera ekor panjang dan bekantan. Sepintas, biasa saja. Apa sisi menariknya? Jarang ada yang tahu bahwa pulau ini memiliki sejarah panjang dan menarik. Penuh dinamika.

Pulau kembang sudah menjadi tujuan wisata sejak masa Hindia Belanda. Persisnya, tahun 1920 hingga masa akhir Hindia Belanda tahun 1942. Pulau Kembang bagi para meneer Belanda disebut Apeneiland. Pulaunya para kera. Bukan pulau monyet atau “monkeys”. Perbedaan antara kera dengan monyet dapat dilihat dari klasifikasi ilmiah atau pun dari perbedaan ciri-ciri tubuh.

Berdasarkan klasifikasi ilmiah, kera (apes) dan monyet (monkeys) berasal dari sub-famili berbeda. Kera berasal dari superfamili Hominoidea. Sementara kera (monkeys) termasuk superfamili Cercopithecidae dengan satu famili yakni Cercopithecidae. Secara fisik, perbedaan antara kera dan monyet paling kentara dan mudah dikenali adalah keberadaan ekor.

Pulau Kembang atau disebut juga Pulau Kembang memiliki sejarah misterius. Sejarawan kawakan, Idwar Saleh (1981-1982) mencatat, catatan sejarah keberadaan Pulau Kembang dimulai sekitar tahun 1698. Dimana dalam kurun waktu tersebut, pedagang-pedagang Inggris berusaha membuka Kantor dagang di Banjarmasin. Pada sisi lain, hubungan Inggris dengan Kerajaan Banjar tidak begitu baik. Untuk menyingkirkan pihak Inggris, Sultan Banjar meminta bantuan penduduk asli pedalaman dari golongan Biaju yang hidup di pesisir Barito.

Menurut laporan Hamilton tahun 1757 pada waktu malam hari, telah turun ke Muara cerucuk orang Biaju sekitar 3.000 orang. Mereka menyerang loji dan Benteng Inggris yang ada di pesisir Sungai Barito tersebut. Kapal Inggris dibakar. Menurut cerita turun temurun yang dikumpulkan Idwar Saleh, bangkai kapal Inggris di Sungai Barito tersebut akhirnya menjadi sedimentasi di Sungai Barito. Bangkai kapal-kapal Inggris tersebut lambat laun ditumpuki lumpur dari sungai Barito sehingga menjadi delta di bagian tengah Sungai Barito. Kemudian delta inilah yang menjadi Pulau Kembang.

Dari sinilah muncul tafsiran atau pendapat. Versi pertama mengatakan bahwa tanah yang baru muncul di permukaan air tersebut mengambang (meluap/meluap) sehingga Pulau Kembang juga dinamakan Pulau Maluap.

Versi kedua, setelah pulau ini muncul di permukaan air dan ditumbuhi hutan, pulau ini menjadi kediaman atau habitat kera. Orang desa di sekitarnya menganggap bahwa kera-kera tersebut merupakan jelmaan dari makhluk-makhluk gaib atau orang halus, yang memakai sarungan kera. Kelompoknya dipimpin oleh kera yang besar sekali yang bernama si Anggur. Pulau tersebut kemudian dijadikan sebagai tempat orang bernazar. Orang yang datang ke pulau itu membawakan sesajen seperti pisang, telor, nasi ketan dan sebagainya. Sesajen ini biasanya disertai mayang pinang dan kembang kembang dan diberikan kepada kawanan monyet. Pulau tempat orang berhajat dan menabur kembang ini akhirnya disebut orang Pulau Kembang.

Demikian pendapat menurut versi Idwar Saleh (1981-1982). Apabila ditelusuri kembali buku Hamilton, A New Account of the East Indies, yang ditulis tahun 1688-1723, berita tentang tenggelamnya Kapal Inggris memang benar adanya. Mulai dari kisah tentang Kapten Barry hingga upaya Inggris mendirikan factory di Banjarmasin. Pada saat penyerangan orang orang Biaju, orang Inggris bersembunyi di Kapal dengan dilengkapi senjata lengkap. Sayang dua kapal armada Inggris lainnya tidak bisa diselamatkan dan terbakar. Seorang pria Belanda yang berusaha melarikan diri dalam penyerangan tersebut, bernama Hoogh Chamber juga ikut dibakar. Hal tersebut tidak terlepas dari persaingan sesama bangsa Eropa dalam memperebutkan perdagangan lada yang berpusat di Tatas. Pada saat itu, Bernard te Lintelo (1752-1757), bertindak sebagai pemimpin Belanda di Tatas yang dilanjutkan R. Ringholm (1757-1764).

Catatan sejarah mengenai Pulau Kembang sebagai daerah tujuan wisata mulai mengemuka ketika dirilis Majalah Travel (wisata) Hindia Belanda, Tropisch Nederland, volume 12 yang terbit tahun 1939. Dalam artikel bertajuk Bandjermasin, Borneo oleh M.J.A. Oostwoud Wijdenes, dituliskan bahwa kalau travelers berangkat dari Martapura berlayar melewati Kween ke barat, akan tiba di Sungai Barito, tepat di Apeneiland (Pulau monyet), Poelau Kembang. Sebuah delta yang tidak bisa dilalui. Tempat itu adalah tempat kawanan kera menetap (bermukim) secara permanen.

Dalam sumber lain, Tijdschrift voor Indische taal, land en volkenkunde, yang diterbitkan Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, 1948, tertulis bahwa di Poelau Kembang, sebuah pulau kecil yang terletak di Sungai Barito, adalah “pulau monyet” yang terkenal, tepat di hilir dari muara Kween (Koein).

Sementara Dorothee Buur dalam tulisannya berjudul Indische Jeugdliteratuur: Geannoteerde Bibliografie van jeugdboeken over Nederlands-Indie en Indonesie, tahun 1825-1991, bercerita tentang keluarga Belanda baru saja tinggal di Bandjermasin (Borneo) dimana sang ayah memiliki pekerjaan di bidang kehutanan. Dia sering pergi tur melalui hutan dengan perahu. Bersama putra tertuanya, Chris, kerap bepergian naik perahu. Chris dan ayahnya berlayar di sepanjang sungai Martapoera dan Barito ke Apeneiland (pulau monyet). Dalam perjalanan mereka menuju berburu buaya. Setelah sekitar satu tahun, sang ayah lalu dipindahkan ke Magelang (Jawa Tengah).

Bersambung ke  Misteri Dari Apeneiland Banjarmasin (2): Pemukim Tionghoa dan Reinkarnasi Kera Hanoman.

 

 

 

Oleh : Mansyur, S.Pd, M.Hum

3 thoughts on “Misteri Dari Apeneiland Banjarmasin (1) Tenggelamnya Kapal Inggris dan Munculnya si Anggur Raja Kera

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *