Habitat buaya di Sungai Barito cukup banyak. Jika penduduk lokal berhasil menangkapnya, akan membawa hewan tersebut ke petugas administrasi dalam keadaan terikat dan tersumbat untuk mendapatkan hadiah. Sumber: Foto dalam Natuur en Menschen in Indie, August de wit, 1914.

Sungai-sungai yang mengaliri wilayah Banjarmasin beberapa dekade lalu memang menawan. Tenang. Riak riak airnya seakan menawarkan kedamaian. Jukung dan perahu dagang pun hilir mudik. Tetapi jangan salah. Air sungai yang mengalir tenang, ternyata menyimpan sosok monster sungai nan menakutkan. Kemunculannya menimbulkan bencana dan membuat warga Banjarmasin di sekitar sungai ketakutan.

Mereka tidak lagi merasa nyaman dan selalu was was. Kehidupan sungai yang tadinya tenang menjadi mencekam. Setidaknya itulah yang terekam dalam beberapa catatan orang-orang Belanda yang pernah berdiam di Banjarmasin sejak tahun 1858 hingga tahun 1940 an.

Monster air itu adalah buaya. Buaya memang dikenal sebagai predator yang sangat ganas. Pemilik rahang terkuat di sungai. Orang Belanda biasa menyebutnya dengan krokodil. Tercatat sejak tahun 1858 lalu, gangguan buaya sungai di Banjarmasin dan sekitarnya sangat mematikan. Wajar bila Boomgard (2001) menuliskan bahwa buaya menjadi penyebab kecelakaan yang sering mematikan di Borneo bagian selatan. Buaya kerap memangsa manusia, ternak hingga hewan peliharaan. Wabah buaya ini sempat memusingkan Pemerintah Hindia Belanda di Banjarmasin. Bagaimana cara mengatasi persoalan ini?

Pada tahun 1858 pemerintah Hindia Belanda mulai memberlakukan premi. Semacam hadiah untuk orang yang bisa menangkap dan membunuh buaya serta menyerahkan telur buaya untuk dimusnahkan. Dalam foto yang dipublish Augusta de Wit, dalam Natuur en menschen in Indie (1914), menggambarkan hasil tangkapan seekor buaya yang diserahkan langsung oleh warga ke Asisten Residen untuk mendapatkan hadiah.

Buaya yang ditangkap di tepi sungai di Borneo tahun 1920. Sumber: koleksi KITLV.

Sayangnya, program “pemberian hadiah” ini tidak sukses. Hanya sedikit orang yang memburu hadiah dibalik penangkapan buaya. Buaya dianggap sakral oleh masyarakat Banjar maupun masyarakat Dayak. Kesakralan ini mulai tergerus sejak meningkatnya harga kulit buaya sekitar tahun 1925. Dalam dekade ini perburuan buaya pun meningkat dengan pesat.

Naiknya harga kulit buaya (krokodil skin) disertai misi “balas dendam” seakan jadi motivasi Urang Banjar mulai berburu buaya di DAS Barito, termasuk Sungai Martapura dan anak sungainya. Uniknya orang Belanda pun seakan benci dengan mahluk air ini. Dalam Koran Bataviaasch nieuwsblad (edisi 7 Februari 1906), diberitakan Mr J. Arnold menembak buaya di sungai kecil pada kawasan Wllhelmina Weg (sekarang Jalan Belitung) di Bandjermasin. Buaya ini cukup besar, sepanjang tiga meter. Sebelumnya buaya tersebut sudah memangsa (menelan) seekor ayam dan bebek.

Derita terus berlanjut ketika pada tahun 1910, pada sabtu malam, melanda seorang penduduk lokal Banjar yang tinggal di soengei/Sungai di sebelah alun-alun di Bandjermasin. Saat dia mandi di batang, lalu diserang buaya, sehingga mengalami luka parah sampai ke kepala dan ke pipi. Luka yang cukup serius. Beberapa orang yang melihat bergegas berteriak minta tolong. Untung berhasil diselamatkan oleh warga kampung. Kalau tidak dia pasti diseret ke dalam air oleh monster itu. Demikian ditulis Koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, edis 15 Januari 1910.

Buaya dalam kano/perahu di Borneo tahun 1925. Sumber: Koleksi KITLV.

Kasus lainnya, pada Hari Raya Idul Fitri di Banjarmasin, sang monster menyerang 3 penduduk lokal yang sedang menaiki Jukung di kawasan Sungai Tarapoe (pesisir Sungai Barito). Akibatnya salah seorang penduduk tersebut (wanita) menjadi mangsanya. Buaya mendadak menyerang jukung yang sedang ditumpangi penduduk hingga terbalik. Penumpangnya pun jatuh ke air. Buaya lalu menyergap penumpang wanita. Seorang penumpang jukung lainnya dengan penuh keberanian menyerang buaya tersebut dengan tusukan senjata tajam berulang kali. Dengan harapan sang buaya melepaskan mangsanya. Sayangnya buaya malah menghilang ke kedalaman sungai. Wanita tersebut tidak dapat diselamatkan. Menderita begitu banyak luka dan dilepaskan oleh buaya setelah beberapa hari. Demikian ditulis koran yang sama edisi 13 Juli 1908.

Warga Banjarmasin pun mulai memikirkan cara menyingkirkan si monster. Dalam beberapa bulan terakhir pada tahun 1910, penduduk Kween (Kuin) di Bandjermasin makin menderita karena ulah buaya. Untuk mengatasi wabah itu dan upaya untuk membalas dendam, warga kampung sepakat menangkap binatang mengerikan ini dengan memasang umpan dan kail. Bahkan penduduk rela “urunan” untuk membayar pemburu buaya sebesar f 2 (dua gulden) untuk masing-masing hewan yang ditangkap. Upaya ini membuahkan hasil ketika buaya tangkapan pertama dengan panjang sekitar 3,1 meter diarak dan dipertontonkan di hadapan warga di Kuin. Kejadian ini tepat di tanggal 02 Mei 1910.

Sementara monster terus berulah. Kejadian di desa Mantoeil/Mantuil (Banjarmasin) penduduk lokal bernama Djait bin Daoet pada tanggal 25 Februari 1914 meninggal karena diterkam buaya. Mayatnya belum ditemukan. Demikian halnya di Margasari, seorang Inlander (penduduk lokal) juga dibunuh oleh buaya. Kemudian di desa Saboehoer di Pleiharische/Pleihari seorang pria dimangsa oleh buaya.

Peristiwa lain terjadi di Soengei Bagaoe (Sungai Bagau), anak sungai yang mengalir ke Sungai Martapura. Pada tanggal 11 Mei 1914, sepasang suami istri bersama anak mereka pulang ke rumahnya dengan manaiki Jukung “Kiwien”. Sekitar satu mil dari dermaga (boom) Jukung tersebut tersandung pada sebuah benda yang dikira pohon. Ternyata itu adalah buaya. Hewan ini tidak langsung masuk ke dalam air setelah tertabrak, tetapi memukulkan ekornya dengan pukulan mematikan ke jukung, sehingga penumpangnya terjatuh ke dalam air.

Untungnya, terdapat beberapa perahu penduduk yang kebetulan berada di pinggir sungai. Mereka lalu berdatangan untuk membantu. Berhasil menyelamatkan ibu/istri dan anak itu. Namun, mereka tidak dapat menemukan pria (si suami) itu, dan keesokan paginya mayatnya yang terluka parah, ditemukan sudah mengambang.

Dewan (Pemerintah Hindia Belanda) pun mulai didesak untuk merumuskan kembali aturan pemberian hadiah (premi) bagi penduduk untuk menangkap, membunuh dan menemukan telur sang monster. Dewan dituntut dan perlu memberikan motivasi kepada masyarakat untuk mengatasi wabah ini.

seorang anak dengan buaya yang telah tertangkap lewat perangkap di Borneo tahun 1920. Sumber: koleksi KITLV.

Tidak ada binatang berbahaya di Borneo kecuali buaya. Bahkan seekor harimau tidak dapat ditemukan di sana. Hanya ada spesies panther, yang tidak dapat dilacak karena jauh di dalam hujan tropis dan tersembunyi. Demikian diakui penulis buku Indie: geillustreerd tijdschrift voor Nederland en kolonien (1924). Setahun setelah buku ini ditulis, ternyata harga kulit buaya mulai mahal.

Warga lokal di wilayah Aloeh Aloeh di Bandjermasin pun menangkap buaya besar. Panjangnya enam meter. Ditangkap dengan kail besar yang diberikan umpan ayam hidup yang menempel pada kail. Buaya ditangkap. Ketika perut binatang dibuka, ditemukan sepasang gelang emas, sepasang perak, sepasang alas kaki perak, pin perak, sepasang koin emas Inggris, cincin perak, dan tembaga. Dari temuan ini orang dapat menyimpulkan bahwa monster itu memangsa setidaknya dua wanita. Sementara perhiasan menunjukkan bahwa para korban adalah wanita . Namun sejauh ini seseorang tidak dapat mengetahui siapa wanita yang malang itu. De Indische courant pun memberitakannya pada tanggal 02 November 1925.

Bagaimana perjuangan melawan sang monster air berikutnya?
Bersambung.

oleh Mansyur, S.Pd, M.Hum

Perjalanan kami sejak 20 Januari lalu, bersama-sama para Kolaborator memproduksi pengetahuan Kota, menelurusi kampung ke kampung, serta memperoleh pengetahuan dan informasi dari warga tentang kampungnya. Langkah demi langkah setiap harinya mengajarkan kami banyak hal terutama akan pentingnya pengetahuan kota untuk diproduksi bersama dan ditampilkan untuk seluruh warga kota agar bisa menjadi pengetahuan bersama. Tidak terasa, langkah kami tinggal 31 Hari lagi menuju Festival Kolaborasi Nyawa Sungai. Festival puncak yang mencakup seluruh kegiatan kami dari awal hingga sekarang. Festival yang akan menampilkan apa yang telah kami dan kolaborator lakukan selama ini.
Catat tanggalnya : 12 – 13 Mei 2018. Sampai bertemu di Festival Kolaborasi Nyawa Sungai

#nyawasungai
#suatuharitanpasampah
#narasisungai
#kolaborasi
#kolektif
#kakikota
#banjarmasinbaiman
#urbanplaning
#urbancreationspace
#urbanismewarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *