Sejak masa Hindia Belanda, keindahan kota Banjarmasin dengan sungainya selalu menjadi daya tarik. Orang orang Eropa pun mulai banyak yang mengunjungi kota ini. Apalagi ditunjang armada kapal KPM dan NISM yang siap mengantarkan pengunjung melalui sungai sungai menawan. Bak permata dunia timur. Wajar bila orang orang Eropa banyak yang menggelari Kota Banjarmasin dengan The Venice from Eastern atau Venetie van het Oosten atau Venice/Venesia dari Timur.

Satu diantaranya adalah majalah Tropisch Nederland terbitan 1939. Majalah ini cukup “getol” mempromosikan keindahan alam Borneo bagian selatan. Mengunjungi Banjarmasin atau Venice di Timur dengan segala keindahannya adalah kesempatan langka bagi orang Eropa. Jika Venesia terkenal dengan Gondolanya sebagai sarana transportasi, maka Borneo pada zaman dahulu juga memiliki jenis perahu yang tidak kalah indahnya dari Gondola. Perahu ini bernama perahu atau jukung tambangan.

Perahu Tambangan dengan latar Jembatan Coen, tahun 1915-1940. Koleksi: Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen dan Tropenmuseum.

Bagaimana sejarah jukung tambangan? Tinjauan historis ini banyak ditulis “pakar jukung” H. Achmad Mawardi. Beliau adalah pemerhati budaya dan lingkungan sekaligus penasehat LMMC (Lambung Mangkurat Museum Community) Kalimantan Selatan. Seperti di dalam makalahnya berjudul “Tinggalan Arkeologi Jukung di Kalimantan Selatan Bukti Prototipe Jukung Banjar Masa Kini, dan Pasar Terapung Sebagai Objek Pariwisata Berbasis Arkeologi”, dipaparkan dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA) tahun 2011 lalu.

Menurut Mawardi, berdasarkan tinggalan arkeologis dan narasi historis, jukung-jukung orang Banjar masih banyak terdapat dan digunakan di perairan Kalimantan Selatan. Bahkan pasar terapung (floating markets) di daerah ini, diketahui sudah ada sejak 400 tahun yang lalu. Senada dengan Idwar Saleh (1981) yang mengungkapkan bahwa perkiraan pasar terapung dan juga di tebing sungai sudah ada pada tahun 1530 Masehi pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah (Pangeran Samudera) yang terletak pada pertemuan Sungai Karamat dan Sungai Sigaling. Kemudian bergeser ke tepi sungai Barito di daerah muara Sungai Kuin menjelang akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17 Masehi.

Demikian halnya dengan Pasar terapung di sungai Desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar, diduga sudah ada pada abad ke-16. Tetapi baru dipergunakan secara umum ketika perpindahan keraton Banjar ke kawasan Kayu Tangi Martapura sejak awal abad ke-17. Tepatnya, tahun 1612.

pemandangan sungai dengan perahu dan rumah, tahun 1905-1914. Koleksi: Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen dan Tropenmuseum.

Apa buktinya? Terdapat peninggalan arkeologis Jukung Tambangan. Seperti diungkapkan Mawardi (2011) ditemukan terbenam lumpur pada kedalaman 1,5 meter di Sungai Saka Raden anak Sungai Nagara, Desa Baulin Margasari, Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin pada bulan Juni 2009. Jukung Tambangan tersebut berukuran panjang 12,40 meter, lebar 1,34 meter, dan dalam 59 cm. Kondisi jukung 80 % baik, sebagian rusak dan pada sampung belakang jukung telah mengalami pelapukan (soiling).

Analisa C-14 di laboratorium PPGL (Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi dan Kelautan) Bandung, tipe jukung ini berumur absolut 1765-1825 Masehi, atau sekitar tengah abad ke-18 hingga awal abad ke-19 Masehi (Kom. pribadi dengan ibu Vida P.R.K., 8 Juli 2011). Diduga pada masa pemerintahan Sultan Tahmidullah atau Nata Alam (1761-1801) hingga Sultan Adam al Wasik Billah (1825-1857).

Dari sumber ini dapat diketahui bahwa Jukung Tambangan mulai berkembang pada masa pemerintahan Sultan Tahmidullah atau Nata Alam (1761-1801) hingga Sultan Adam al Wasik Billah (1825-1857). Artinya secara arkelogis dan historis jukung tambangan berusia sudah hampir 257 tahun.

Jukung Tambangan seperti dipaparkan Mawardi, berdasarkan pendapat Schwaner (1861) terbuat dari kayu Ulin, sudah digunakan oleh para saudagar atau orang kaya, sekitar tahun 1843 -1884. Pertengahan abad ke-19, atap sirap dari kayu Ulin sudah digunakan dan diperdagangkan. Antara lain yang diproduksi di Dusun Hulu dan dijual atau dipertukarkan barter ke Banjarmasin. Sjamsuddin (2001) juga menuliskan bahwa Surapati misalnya pada Maret 1858 pernah membawanya untuk keperluan pemerintah kolonial Belanda.

Perahu pengangkut barang khas madura di tepi sungai Martapura, Banjarmasin, dengan perahu khas Banjar tanpa tahun. Koleksi: Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen dan Tropenmuseum.

Bagaimana pembuatan Jukung Tambangan? Mawardi memberikan jawaban, adanya sirap untuk atap rumah, membuktikan hanya bisa dipasang dengan jenis paku besi, tidak dengan pasak kayu. Pembuatan Jukung Tambangan terutama dengan lunas tanpa perahu lesung, memerlukan keahlian khusus membuat “lunas mambuah balimbing”. Pembuatan Jukung Tambangan sengaja tidak menggunakan paku besi, tetapi dari pasak kayu Ulin (dowel technique). Penyusunan papan-papan untuk dinding jukung dengan cara “carvel built (susun rata)”.

Disini letak seninya. Apalagi mereka sudah mengenal penggunaan bor, pahat dan gergaji kayu (handsaw) dari besi. Pasak kayu Ulin lebih tahan lama dibanding dari besi. Keahlian membuat jukung ini hanya bisa dibuat oleh ahlinya orang Banjar, bukan dari orang Dayak.

Penggunaan Jukung Tambangan yang awalnya diperkirakan banyak digunakan oleh golongan bangsawan, tetapi sesudah dihapusnya kerajaan Banjar pada tanggal 11 Juni 1860, terjadi pergeseran sosial. Banyak bangsawan jatuh miskin, dan kedudukannya digantikan para saudagar atau orang-orang kaya.

Pada masa perang Banjar (1859-1905), menurut Mawardi Jukung Tambangan pernah digunakan oleh para pejuang Banjar, antara lain ketika menyerang Belanda di Margasari pada 16 Desember 1861 malam, kemudian melarikan diri ke Sungai Jaya anak Sungai Nagara di kawasan Nagara. Jukung Pandan Liris atau Jukung Bagiwas misalnya pernah digunakan oleh Tumenggung Jalil dalam pemberontakan Benua Lima melawan penjajah Belanda, 1859-1881. Narasi sejarah tersebut dituliskan Saleh (1985), Ideham dkk (2003) serta Antemas (2004).

Pendapat Mawardi, Jukung Pandan Liris, selain disebut “Tambangan”, juga belum ada ukiran. Jukung Pandan Liris banyak digunakan oleh orang kebanyakan. Sebaliknya Jukung Tambangan semula digunakan oleh kaum bangsawan dan orang kaya Banjar. Tetapi kemudian sejak awal abad ke-20 (paling lama menjelang akhir abad ke-19), sudah banyak digunakan untuk antar jemput penumpang yang bepergian, bertemu keluarga, kematian, perkawinan, dan sebagainya. Baik oleh orang kebanyakan, maupun oleh para bangsawan dan orang kaya, berduit, dll.

Triatno (1998) seperti dikutip Mawardi juga mengemukakan Jukung Tambangan, diduga muncul sesudah Jukung Pandan Liris atau Jukung Bagiwas. Sehingga tipe jukung ini menjadi prototipe Jukung Tambangan. Tipe Jukung Pandan Liris ditemukan bangkainya berukuran panjang 6,9 meter dan lebar 1,03 meter di dasar sungai Desa Sapala, Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Lunasnya tidak dari balokan kayu, keseluruhan merupakan dinding badan yang ditempelkan pada tajuk, berbentuk “V”.

Pada saat ditemukan belum banyak terserang “soiling” oleh “kapang” sejenis siput air tawar, dan tidak adanya ukiran-ukiran (motif bayam raja, daun jaruju (Acanthus ilicifolius), sulur dan motif geometris), polos. Terutama pada sampung belakangnya, sedangkan pada Jukung Tambangan terdapat ukiran daun jaruju melayap.

Tetapi dari perbandingan kedua macam jukung ini, jukung Tambangan memang lebih umum dikenal. Wajar jika Mawardi berpendapat bahwa Jukung Pandan Liris disebut demikian karena hanya dibuat dan digunakan di Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, dan di kawasan sungai dan rawa Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan disebut Jukung Bagiwas. Pada sampung muka dan belakang tipe Jukung Bagiwas ini terdapat ukiran sulur daun, warna coklat. Karenanya tipe jukung ini dianggap prototipe Jukung Tambangan menurut Triatno et al. (1998).

Apalagi di kawasan Sungai Nagara terdapat sebuah desa yang disebut Desa Tambangan, dulunya adalah desa pembuat/pengrajin Jukung Tambangan yang sangat dikenal. Di kawasan rawa/sungai Nagara keseluruhan, diketahui banyak pengrajin jukung. Misalnya pembuat Jukung Undaan dan Jukung Parahan (berasal dari kata “Vraag”, Belanda, ongkos yang harus dibayarkan) atau Jukung Gundul.

Seperti pada jukung Bagiwas, kedua macam (tipe) jukung angkutan barang ini memiliki ukiran pada kedua sampungnya, berupa motif sulur daun memanjang, dengan warna coklat. Sedangkan pada Jukung Parahan lunasnya berupa balokan kayu memanjang didasar jukung menurut Triatno (1998). Untuk membuktikan Jukung Pandan Liris atau Jukung Bagiwas adalah prototipe dari Jukung Tambangan, diperlukan analisa C-14 pada bangkai Jukung Pandan Liris atau Jukung Bagiwas. Apakah lebih dahulu atau bersamaan, semasa dengan Jukung Tambangan.

Perahu khas madura (kiri) dengan perahu tambangan (kanan) di Banjarmasin, antara tahun 1905-1914. Koleksi: Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen dan Tropenmuseum.

Jukung Tambangan yang sekarang mejadi “emblem” orang Banjar, sudah tidak terlihat lagi sekitar tahun 1950 an di Banjarmasin seperti diungkapkan Saleh (1983), Syarifuddin dan Kadir (1990), dan sekitar tahun 1970an di Sungai Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan menurut analisa Petersen (2000). Jukung-jukung Banjar sekarang ini selain jukung-jukung sudur yang masih digunakan di berbagai kabupaten, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar dll., dan jukung-jukung papan terbaru, juga motor boat dan ferry, adalah tipe (macam) jukung yang dibuat sejak paruh pertengahan abad ke-20 M.

Sesudah perahu-perahu Papan yang terbuat dari kayu Ulin, seperti Jukung Tambangan menghilang, kemudian muncul Jukung Tamban. Macam jukung ini merupakan bentuk nyata jukung batambit (plank-built boat), untuk angkutan penumpang yang bentuknya cantik. Analisa ini dikemukakan Petersen (2000).

Sementara Jukung Kuin merupakan Jukung Patai yang diberi kapih. Secara berangsur berbagai macam jukung tradisional lenyap tidak digunakan lagi karena didesak angkutan air modern yang menggunakan mesin diesel sebagai penggerak jukung. Jukung Patai yang masih digunakan tetapi dengan menggunakan mesin penggerak berbahan bakar minyak tanah atau kerosin adalah tipe (macam) Jukung Serdangan di Sungai Kusan Kabupaten Tanah Bumbu, yang disebut “katinting”.

Tipe jukung ini dibuat dari kayu Halaban (Vitex pubescens Vahl.) dan kayu Bungur (Lagerstromea speciosa Pers.) Macam-macam jukung lainnya yang sudah punah di antaranya Jukung Talangkasan (prototipe Jukung Patai), Jukung Bagiwas, Jukung Tambangan, Jukung Babanciran, Jukung Pangkuh, Jukung Parahan, Jukung Gundul, Jukung Undaan, Jukung Kuin, Jukung Pangkuh, Jukung Tamban, dan Jukung Buntal (jukung sudur kecil, lebar dan terbuat dari kayu Jingah, Gluta renghas L.) Selain Jukung Talangkasan yang sudah ada pada abad ke-16, jukung-jukung yang sudah punah tersebut di atas, muncul menjelang tengah atau akhir abad ke-19 Masehi, bahkan mungkin jauh sebelumnya.

Perahu tambangan di Sungai Martapura Banjarmasin, tanpa tahun. Koleksi: Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen dan Tropenmuseum

Pertanyaannya kemudian? Bagimana merevitalisasi kembali sehingga Jukung tambangan dan jenis jukung lainnya bisa lestari?

Menurut Mawardi upaya meningkatkan apresiasi dan kepedulian masyarakat Kalimantan Selatan terhadap jukung tradisionalnya dapat dimantapkan dengan cara pemanfaatan sekaligus pelestarian sumber budaya sungai tersebut, terutama keberadaan pasar-pasar terapung yang bernilai arkeologi untuk pariwisata. Hal ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi juga kewajiban masyarakat (lembaga swadaya masyarakat atau pemerhati secara perseorangan).

Dalam hal ini pemerintah pusat dan daerah beserta para pemangku kepentingan (stake-holders) lainnya, memfasilitasi ketahanan budaya jukung tradisional yang berkaitan dengan sumberdaya budaya sungai lainnya secara keseluruhan, dan menjadikannya sebagai budaya unggulan (the culture of excellence) etnis Banjar.

Mawardi juga memberikan masukan, peningkatan apresiasi dan kepedulian tersebut di atas dapat dilakukan dengan cara menyampaikan informasi hasil interpretasi tentang jukung tradisional Banjar yang bersumber pada hasil-hasil penelitian, karya-karya tulis, dan keadaan sebenarnya di lapangan sebagai budaya material unggulan, yang bersangkutan dengan pemanfaatan dan pelestarian.

Pemanfaatan tidak hanya untuk pengembangan sebagai objek pariwisata berbasis arkeologi, juga dalam upaya peningkatan ekonomi kreatif masyarakat pendukung budaya sungai tersebut yang ternyata sanggup bertahan lebih dari 400 tahun. Lokasi-lokasi Pasar Terapung di Kalimantan Selatan bisa dikatakan merupakan situs arkeologi yang masih memiliki benda budaya jukung tradisional.

• Sumber: H. Achmad Mawardi, pemerhati budaya dan lingkungan; penasehat LMMC (Lambung Mangkurat Museum Community) Kalimantan Selatan, dalam makalah-nya: “Tinggalan Arkeologi Jukung di Kalimantan Selatan Bukti Prototipe Jukung Banjar Masa Kini, dan Pasar Terapung Sebagai Objek Pariwisata Berbasis Arkeologi”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA), tahun 2011.

 

Tulisan oleh : Mansyur, S.Pd, M.Hum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *