Seekor buaya yang telah dibunuh di Borneo Tahun 1920 an. Sumber: BM Archive.

Satu cerita menarik dibalik keberadaan sungai di Banjarmasin adalah monster air alias buaya. Pada tahun 1926-1930, monster air di pesisir Sungai Barito, Banjarmasin makin merajalela. Apalagi setelah perburuan buaya secara besar besaran untuk diambil kulitnya (dijual). Kemudian guna mencari hadiah yang dijanjikan pemerintah Hindia Belanda jika berhasil menangkap binatang ini. Buaya kalimantan bernama latin crocodylus raninus.

Dalam catatan Leather industry and trade of the Netherland East Indies yang ditulis Carl H. Boehringer (1932), di Banjarmasin terdapat beberapa perusahaan skala kecil yang bergerak di bidang pengolahan kulit reptil dan kulit binatang lainnya. Sebut saja Firma Neuffer dan Borneosche Bont dan Lederindustrie Bandjermasin, Borneo. Perusahaan ini khusus mengolah kulit buaya (krokodil skin).

Hasil buruan buaya besar di wilayah Borneo bagian selatan dan timur tahun 1919. Sumber: BM Archive dan Tropen Museum.

Walaupun dari segi nama perusahaan terakhir, yakni “bont” yang berarti bulu, tetapi hal ini berarti menunjukkan bahwa itu juga menangani kulit binatang liar. Meskipun buaya hidup ditakuti orang, namun produk-produk dari kulitnya banyak disukai dan berharga mahal. Kulit buaya diolah untuk dijadikan aneka barang kerajinan kulit seperti dompet, tas, topi, ikat pinggang, sepatu dan lain-lain.

Pada bulan April 1926, setidaknya tiga koran yakni Tilburgsche courant (edisi 06 April 1926), Algemeen Handelsblad (edisi tanggal yang sama) serta Limburger Koerier (edisi 09 April 1926), melaporkan bahwa seorang pribumi bernama Amit dan istrinya baru kembali dari bioskop di Bandjermasin suatu malam. Jalanan saat itu berlumpur karena musim hujan. Itulah sebabnya Amit bersama istrinya lalu ke belakang rumah mencuci kaki mereka di kali (sungai).

Tiba-tiba seekor buaya muncul, menangkap Amit di kakinya dan menyeretnya ke dalam air. Istrinya sempat meraih meraih Amit, terjadi tarik menarik. Sayangnya sang istri tidak berdaya. Monster air itu memenangkannya dan menyeret si suami ke kedalaman air. Hingga berita diturunkan, nasibnya tidak diketahui

Proses pemasangan umpan buaya dalam perburuan buaya di Banjarmasin Tahun 1929. Sumber: Tropisch Nederland, 1929.

Demikian halnya di pertengahan tahun 1928. Seorang penduduk asli Banjar di Kampung Talok Dalam (Teluk Dalam), Bandjermasin sedang mandi di sungai di depan rumahnya sekitar pukul setengah delapan malam. Tiba-tiba dia diserang buaya, dan korban terkesiap serta langsung berteriak minta tolong. Pada saat mendengar teriakan korban, penduduk bergegas menghampirinya. Untungnya mereka berhasil menyelamatkannya. Dengan kondisi berdarah dari banyak mata luka, pria yang malang itu segera diangkut ke rumah sakit. Demikian dituliskan Koran De Sumatra post, edisi 10 Mei 1928.

Setahun kemudian, pemberitaan di koran kembali ramai dengan kisah pergulatan manusia dan buaya. Masih tentang sang aligator. seperti Koran Soerabaijasch handelsblad (edisi 15 maret 1929), memberitakan seorang penduduk lokal bernama Lima, disergap buaya pada suatu malam di Banjarmasin. Pria itu baru saja akan kembali ke rumah dari acara syukuran. Setelah selesai acara dia ingin melangkah ke perahu kecil yang terletak di Sungei Wilhelmina (Sungai di kawasan Belitung sekarang). Tiba tiba dia disambar oleh buaya dan diseret ke dalam air.

Ketika binatang jahat tersebut membawanya, ia berteriak meminta pertolongan. Karena banyaknya orang yang masih hadir di acara syukuran tersebut dan belum seluruhnya pulang, suaranya sangat jelas terdengar. Segera penduduk berdatangan untuk menyelamatkan. Sayang, semuanya sudah terlambat. Buaya dengan cepat membawa badan Lima ke dasar air. Semua tamu malam itu telah mencari keberadaan tubuh Lima, tetapi tidak ditemukan.

Buaya sudah merambah ke kawasan perkotaan di Banjarmasin yang padat penduduk. Oleh karena kejadian kejadian buruk serupa sering terjadi, penduduk dianjurkan untuk selalu membawa pisau kecil ketika bepergian. Alasannya aligator berukuran besar maupun kecil selalu mengintai.

Proses penangkapan buaya dalam perburuan buaya di Banjarmasin Tahun 1929. Sumber: Tropisch Nederland, 1929.

Buaya ternyata tidak pandang bulu. Tidak mengenal dewasa atau anak anak. Anak kecil pun menjadi korban keganasannya di Banjarmasin. Pada suatu sore, sekitar jam 5 masih di kampung Telok Dalam. Tidak jauh dari pusat kota Bandjermasin, berdekatan dengan rumah kepala kampung, seorang gadis lokal berumur 10 tahun disambar buaya kecil pada bagian paha. Kondisi air sungainya sangat dangkal (surut), sehingga anak tersebut agak sulit dan tidak bisa ditarik oleh buaya ke bawah air.

Ketika buaya itu melonggarkan gigitannya, sang gadis kecil tersebut dapat menarik kakinya yang terluka ke belakang dan menjerit dengan nyaring. Untungnya buaya tersebut tidak sesegera mungkin menyambarnya, sehingga gadis itu bisa melarikan diri dari sungai. Sangat beruntung memang, luka yang ditimbulkan oleh gigi dan kuku buaya tidak berbahaya. Pada malam yang sama, si anak kemudian dipindahkan ke rumah sakit militer, di mana ia diobati. Demikian diberitakan De Indische Courant edisi 29 Januari 1931 dan De Sumatra post (edisi 03 Februari 1931).

Pada tanggal 19 Maret 1931, Nieuwe Tilburgsche Courant juga memberitakan dengan headline, Banjarmasin Darurat Buaya. Dua nelayan muda di Kampung Benoea Anjar (Banua Anyar) di malam hari menghabiskan sekitar sebelas jam di perahu kecil untuk menangkap ikan dengan jaring. Dalam cahaya bulan yang jelas, mereka menyeberangi sebuah sungai, dengan lebar hampir seratus meter. Pada bagian belakang perahu duduk pendayung yang langsung memperingatkan temannya ketika buaya besar berenang menuju perahu mereka.

Pendayung berusaha menghalau buaya. Namun, hewan itu muncul tepat waktu, dengan kibasan ekornya memukul perahu kecil yang ditumpangi kedua nelayan tersebut. Perahu terbalik dan penumpangnya masuk ke dalam air. Buaya menyergap salah satu dari nelayan tersebut dan membawanya ke bagian sungai yang dalam. Sementara nelayan lainnya berenang dan berhasil mencapai tepian sungai tanpa terluka. Dua hari kemudian, jasad korban ditemukan mengambang beberapa kilometer lebih jauh dari posisi mereka sebelumnya di sungai.

Tingginya intensitas gangguan buaya inilah yang membuat urang Banjar di Kween (Kuin), Banjarmasin serta daerah lainnya, membuat teknik penangkapan buaya yang dinamakan maalir buaya. Dari beberapa sumber dipaparkan bahwa maalir ini sebenarnya seperti memancing buaya dengan pancing yang besar. Ini dilakukan oleh paaliran atau seorang pawang buaya yang mempunyai ilmu khusus dalam menguasai atau menundukkan buaya.

Proses penangkapan buaya dalam perburuan buaya di Banjarmasin Tahun 1929. Sumber: Tropisch Nederland, 1929.

Biasanya dilakukan ketika ada orang yang ditangkap buaya atau ada buaya yang akan mengganggu orang-orang di suatu kampung. Dengan berbagai alat yang digunakan ini dilaksanakan baik berupa peralatan untuk menangkap buaya maupun peralatan magis yang menyertainya, agar buaya tersebut dapat ditangkap.

Paaliran tersebut biasanya berpakaian yang berwarna kuning khusus untuk paaliran tersebut ketika maaliri buaya tersebut lengkap dengan laung dan sebagainya. Alir atau pancing yang diberi umpan makanan buaya tersebut ditempatkan di dalam rakit kecil yang dipasang/diletakkan di sungai tempat buaya itu berada. Paaliran ini merupakan pemimpin dalam menangkap buaya dengan alir tersebut dan dibawa bersama beberapa orang di dalam perahu ketika memasang dan juga menyeret buaya yang telah kena alir tersebut.

Jika buaya telah menyambar alir yang diberi umpan itu dan kena maka pangaliran tadi bersama rombongan menarik tali alir tadi dengan perahu dan menyeret buaya itu yang kemudian dibunuh. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang biasanya harus dikerjakan dan dipimpin oleh paaliran atau pawang buaya tadi, karena dialah yang mempunyai ilmu untuk menundukkan buaya tersebut, yang lain hanya membantu.

Tidak terasa, langkah kami tinggal 23 Hari lagi menuju Festival Kolaborasi Nyawa Sungai. Festival puncak yang mencakup seluruh kegiatan kami dari awal hingga sekarang. Festival yang akan menampilkan apa yang telah kami dan kolaborator lakukan selama ini.
Catat tanggalnya : 12 – 13 Mei 2018. Sampai bertemu di Festival Kolaborasi Nyawa Sungai

 

oleh : Mansyur, S.Pd, M.Hum

#nyawasungai
#suatuharitanpasampah
#narasisungai
#kolaborasi
#kolektif
#kakikota
#banjarmasinbaiman
#urbanplaning
#urbancreationspace
#urbanismewarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *