Pesawat pertama mendarat di Lapangan Udara Oelin (27 km dari Bandjermasin), Kalimantan bagian selatan tahun 1936. Koleksi Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen, S. Steenhuisen (Fotografer).

Sekitar tahun 1920 di masa Hindia Belanda, muncul masalah transportasi di Kalimantan bagian selatan. Terbatasnya akses jalan darat. Oleh karena itu, menurut Boomgaard (2001) perluasan jaringan jalan akhirnya diberi prioritas tinggi. Sebagai bagian dari program ini, wilayah Oelin akhirnya terhubung dengan Gemeente Bandjermasin dengan jalan darat yang cukup bagus.

Pesawat udara pertama kali mendarat di lapangan terbang Oelin pada tahun 1935 (Bandara Syamsuddin Noor saat ini). Selain itu, pesawat pertama juga mendarat di lapangan terbang Manggar dekat Balikpapan dan di Pulau Minyak Tarakan. Kemudian terdapat rute penerbangan mingguan dari Batavia-Surabaya ke Bandjermasin, Balikpapan dan Tarakan. Dalam beberapa foto koleksi Tropenmuseum dan Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen, menggambarkan bagaimana suasana pesawat pertama mendarat dan perayaan pembukaan Lapangan Udara di Oelin (27 km dari Bandjermasin), Kalimantan.

Dari berita yang dilansir koloniale monumenten, berjudul “Liegveld Oelin, Bandjermasin 1936”, menuliskan pada bulan Februari 1936, Bandara Oelin Banjarmasin dibuka. Kemudian rute penerbangan pertama dijadwalkan dari Banjarmasin ke Balikpapan dan Jawa. Pada kesempatan peresmian ini diadakan acara meriah dan sekaligus peresmian prasasti.

Sammy ‘xnyder Istorya 2 jam · Diedit · Pesawat pertama mendarat di Lapangan Udara Oelin (27 km dari Bandjermasin), Kalimantan bagian selatan tahun 1936. Koleksi Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen, S. Steenhuisen (Fotografer).

 

Koran De Indische Courant, edisi 10 Februari 1936 membuat headline berjudul “Penerbangan The Douglas di Borneo. Spirit Drift dan Speechs”. Koran ini menuliskan bahwa di Bandjermasin, pada tanggal 8 Februari 1936 sekitar 2.000 orang bermalam di sekitar bandara ke Oelin. Berkemah. Pesawat ini mendarat malam hari sekitar pukul 23.40 di wilayah Oelin Kalimantan bagian selatan, yang disambut dengan antusias. Sebuah barisan dibentuk polisi militer untuk menjaga sekitar wilayah Oelin.

Dalam peresmian lapangan terbang ini, dibuatlah satu prasasti sebagai peringatan. Kemudian Resident Moggenstorm memberikan pidato sambutan bahwa pembukaan lapangan terbang ini adalah hadiah dari kaum borjuis dan menyerahkannya ke perwakilan dari K.N.I.L.M. Kemudian pidato sambutan juga diberikan oleh Hanfland, sesepuh planters/pekebun, sekaligus memberikan karangan bunga kepada pilot dan perwakilan K.N.I.L.M. Setelah pemeriksaan unit pesawat diikuti sorak-sorai pengunjung.

Sebagai informasi, Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (K.N.I.L.M) ialah maskapai penerbangan Hindia Belanda yang dibentuk pada 16 Juli 1928 sebelumnya sebagai perusahaan independen dan menawarkan layanan penerbangan terjadwal di seluruh Hindia Belanda, dan ke bagian lain Asia Tenggara juga seperti ke Sydney (lewat Darwin, Cloncurry dan Charleville).

Letnan Kolonel J.H.M.U.L.E. Ohl, Komando teritorial Z.O.Borneo digantikan Letnan Kolonel A.C.C. Dufour. Selanjutnya Letnan Kolonel J.H.M.U.L.E. Ohl berangkat ke Belanda setelah serah terima. Di bandara Oelin dia mengucapkan selamat tinggal pada Residen Z. Borneo. A.G. Deelman, pada tanggal 7 September 1948. Fotocollectie Dienst voor Legercontacten Indonesie, 1948.

Pada hari peresmian lapangan udara pada Sabtu, sekitar pukul 3 sore, pesawat jenis Douglas sebagai bagian armada maskapai baru, mendapat antusiasme calon penumpang sehingga dianggap menjanjikan banyak keberhasilan. Pesawat langsung dipesan penumpang dan sudah penuh untuk tiga bulan ke depan, utamanya rute penerbangan dari Balikpapan dan ke Bandjermasin.

Hal yang menjadi motivasi calon penumpang adalah pengalaman penerbangan pertama PP pesawat ini tanpa insiden. Kesan dari semua penumpang yang pertama kali naik pesawat ini juga luar biasa. Mereka sangat senang ketika melintasi pegunungan Kalimantan yang bersinar, terlihat dalam garis kontur biru. Melalui penerbangan yang tenang, meskipun sesekali hujan dan kilatan petir. Layanan ramalan cuaca pesawat ini berfungsi dengan baik.

Pada tanggal 9 Februari, pesawat douglas kemudian terbang lagi ke Balikpapan dan balik ke Banjarmasin keesokan harinya. Dalam perjalanan kembali ke Bandjermasin, tanggal 10 Februari tersebut Pesawat Douglas dari K.N.I.L.M. ini tiba di bandara Oelin pada 9 pagi dan kemudian berangkat pukul 10.30 ke Soerabaja dan Bandoeng. Pejabat Hindia Belanda, Steinmetz turun dan tinggal di Balikpapan. Sementara Residen Moggenstorm turun di Bandjermasin. Lagi lagi pesawat itu mendarat mulus di bandara yang bermandikan matahari. Banyak pihak berwenang hadir.

Dengan pecahnya Perang Pasifik, dan serangan Jepang ke Hindia Belanda, kapal terbang yang tersisa dalam armada KNILM dievakuasi ke Australia di mana semuanya diperoleh militer AS. Termasuk Douglas DC-5, yang mana hanya 5 yang digunakan untuk penerbangan sipil. Setelah perang, perusahaan ini terus beroperasi namun dilikuidasi sejak 1 Agustus 1947.

Pada masa Jepang, menurut syamsudinnoor-airport.co.id, Bandar Udara Syamsudin Noor yang pada awalnya bernama Pelabuhan Udara Ulin yang dikelola oleh Pemerintah Pendudukan Jepang dan terletak disebelah Selatan dari Bandar Udara yang sekarang.

Penghormatan kepada pilot pesawat pertama, yang mendarat di Oelin (27 km dari Bandjermasin), Kalimantan bagian selatan tahun 1936. Koleksi Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen, S. Steenhuisen (Fotografer).

Karena rusak berat akibat pemboman oleh tentara sekutu, pada tahun 1944 pendudukan Jepang membangun sebuah landasan pacu baru disebelah utaranya sejajar dengan landasan pacu yang digunakan sekarang. Pada tahun 1948 pemerintah pendudukan Belanda (NICA) melanjutkan pembangunan landasan pacu tersebut dengan pengerasan batu setebal 10 cm.

Meskipun maskapai K.N.I.L.M. ini hancur ketika penyerangan Jepang ke Hindi Belanda di akhir tahun 1941, setelah kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Belanda yang masih ingin menguasai Indonesia membentuk NIGAT dan KLM IIB sebelum akhirnya seluruh aset KLM IIB harus diserahkan pada pemerintahan RIS yang akhirnya melahirkan maskapai nasional Indonesia,Garuda Indonesia.

Pada saat pengakuan kedaulatan RIS, pengelolaan lapangan udara ulin dilakukan oleh Pemerintah Daerah /Dinas Pekerjaan Umum. Selanjutnya pada pemerintahan RI pada tahun 1961, pengelolaan dilimpahkan kepada Kementerian Perhubungan, Jawatan Penerbangan Sipil. Pada tahun 1970, Pelabuhan Udara Ulin berganti nama menjadi Pelabuhan Udara Syamsudin Noor dan pada tahun 1974 kemampuan landasan pacunya ditingkatkan sehingga mampu didarati oleh pesawat udara jenis Fokker-28.

Lambang KNILM. Sumber: wikipedia.

Dari tahun 1975 sampai dengan tahun 1977 dibangun landasan pacu baru yang digunakan sekarang, yaitu mampu didarati pesawat jenis DC-9 terbatas. Berdasarkan Surat Keputusan Bersama Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata, Menteri Perhubungan dan Menteri Keuangan dengan Nomor: KEP/30/IX/1975, No.KM/598/5/ Phb-75 dan No. KEP. 927.A/ MK/ 8 / 1975, tentang ditetapkan Pelabuhan Udara Syamsudin Noor sebagai lapangan terbang sipil yang dikuasai sepenuhnya oleh Departemen Perhubungan. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perhubungan No. KM.213 / HK207 /Pbb-85, tanggal 4 Nopember 1985 tentang istilah pelabuhan udara Syamsudin Noor di ubah menjadi Bandar Udara Syamsudin Noor.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 48 tahun 1992 tanggal 12 April 1992 dilakukan Serah Terima Operasional Pengelolaan Bandar Udara Syamsudin Noor kepada Perusahaan Umum Angkasa Pura I dan secara resmi Bandar Udara Syamsudin Noor Banjarmasin menjadi salah satu Cabang dari Perum Angkasa Pura I. Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 tahun 1993 tanggal 2 Januari 1993, tentang bentuk perusahaan Angkasa Pura I berubah dari Perum Angkasa Pura I menjadi PT. (PERSERO) Angkasa Pura I.

Pesawat pertama mendarat di Lapangan Udara Oelin (27 km dari Bandjermasin), Kalimantan bagian selatan tahun 1936. Koleksi Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen, S. Steenhuisen (Fotografer).

Melalui pengembangan peningkatan kemampuan landasan pacu pada tahun 1994 Bandar Udara Syamsudin Noor sudah mampu didarati pesawat B-737 / 300 dengan kapasitas penuh. Pada Tahun 2003 telah selesai dilaksanakan Pengembangan Bandar Udara Syamsudin Noor oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dengan membangun fasilitas perpanjangan Runway mampu didarati pesawat B-767 / 300 ER. Namun kapasitasnya terbatas serta pembangunan Apron yang mampu menampung 7 pesawat berbadan lebar B-737 dan fasilitas pendukung lainnya. Pengembangan Bandar Udara Syamsudin Noor guna mewujudkan cita-cita masyarakat Kalimantan Selatan untuk menjadikan Bandara Kebanggaan Kalimantan Selatan ini menjadi Embarkasi Haji.

 

 

Prasasti peringatan untuk menghormati pesawat mendarat pertama KNILM di bandara Oelin, dekat Bandjermasin, Kalimantan tahun 1936. Koleksi Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen, S. Steenhuisen (Fotografer).

Oleh Mansyur, S.Pd, M.Hum.

Tidak terasa, langkah kami tinggal 21 Hari lagi menuju Festival Kolaborasi Nyawa Sungai. Festival puncak yang mencakup seluruh kegiatan kami dari awal hingga sekarang. Festival yang akan menampilkan apa yang telah kami dan kolaborator lakukan selama ini. Catat tanggalnya : 12 – 13 Mei 2018. Sampai bertemu di Festival Kolaborasi Nyawa Sungai.

Pesawat pertama mendarat di Lapangan Udara Oelin (27 km dari Bandjermasin), Kalimantan bagian selatan tahun 1936. Koleksi Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen, S. Steenhuisen (Fotografer).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *