Ronggo Banjarmasin, Raden Tumenggung Suria Kasuma dan panakawannya (foto oleh Hendrik Veen, 1860-1880). Sumber: Collectie Hendrik Veen in het Tropenmuseum.

Beberapa waktu lalu, AM Hendropriyono dianugerahi gelar Pangeran Harya Hikmadiraja oleh Sultan Banjar, Sultan Haji Khairul Saleh. Penganugerahan disematkan pada puncak peringatan Milad Kesultanan Banjar ke-512 di Masjid Sultan Suriansyah. Gelar tersebut merupakan sebuah bentuk penghormatan dan penghargaan kepada Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu karena memiliki leluhur Urang Banjar. Di masa silam, Datu atau kakek buyut AM Hendropriyono adalah Raden Tumenggung Soeria Kesoema.

Siapa Raden Tumenggung Soeria Kesoema?
Dari beberapa sumber dipaparkan Raden Ronggo Tomenggong Soeria Kasoema, menjabat Ronggo sekitar tahun 1877-1893. Tokoh bernama asli Abdurahman ini, lahir dari pasangan ayah Bayan Aji dan ibu Galuh Salamah. Istrinya keturunan tionghoa bernama Ratu Lim Pe Tek Nio, kemudian masuk Islam dan bernama lain Siti Ra’imah.

Ronggo Banjarmasin, Raden Tumenggung Suria Kasuma dan keluarga (foto oleh Hendrik Veen, 1860-1880). Sumber: Collectie Hendrik Veen in het Tropenmuseum

Dalam sumber sumber kolonial namanya dituliskan dengan ejaan Raden Tomenggong Soeria Kasoema (Raden Tumenggung Suria Kasuma). Sosok berwibawa dan bersahaja tergambar Dalam rekaman foto Hendrik Veen tahun 1860-1880. Dalam foto tersebut, Ronggo Banjarmasin Raden Tumenggung Suria Kasuma berpose bersama panakawan serta keluarganya.

Dari garis keturunan ayah Bayan Aji, Raden Ronggo Mas Tomenggong Soeria Kasoema memiliki lima orang saudara yakni HM. Normas, Ung Dibab (M.Jafri), Galuh Rahmah, Galuh Amnah (Aminah), H.Hamid, serta HM Said atau Corong (dikenal dengan Datu M.Said, Pandan Sari, Lupak, Barito Kuala 1800-1905).
Keberadaan tokoh ini mulai mengemuka sejak tahun 1876.

Setidaknya itulah yang tertulis dalam De locomotief, edisi 13 Juni 1876. Namanya pada awalnya hanya Mas Soeria Kasoema. Akan tetapi kemudian karena jasanya, mendapatkan gelar Toemenggoeng pada tahun yang sama sehingga gelarnya menjadi Mas Tomenggong Soeria Kasoema (Mas Tumenggung Suria Kasuma).

Berselang dua bulan kemudian, diangkat sebagai Ronggo di Onderafdeeling Kween (Kuin) sekaligus Kepala Jaksa (hoofddjaksa) landraad Bandjermasin. Beliau menjabat bersamaan dengan pengangkatan hoofddjaksa di Landraad Amoentai, Tomenggoeng Wangsa Kasoema; jaksa penuntut umum di Amoentai, kjai mas Djaja Samoedra yang sebelumnya menjabat kepala distrik Tabanio.

Ronggo Banjarmasin, Raden Tumenggung Suria Kasuma (foto oleh Hendrik Veen, 1860-1880). Sumber: Collectie Hendrik Veen in het Tropenmuseum

Untuk kepala distrik Tabanio, dijabat sekretaris asisten residen Amoentai, Bondan. Soeria Kasoema menggantikan ronggo sebelumnya, Pangeran Toemenggoeng Tanoe Karsa. Pengangkatan ini diberitakan dalam dua koran Hindia Belanda, Java-bode, edisi 12 Agustus 1876 dan De locomotief 15 Agustus 1876.

Sebelum pengangkatan Raden Tumenggung Suria Kasuma, Ronggo Banjarmasin dijabat oleh Tanu Karsa. Beliau juga anggota Pengadilan Umum Perdata dan Pidana bentukan pemerintah kolonial Belanda. Bersama Pangeran Ahmid bin Sultan Sulaiman, Pangeran Syarif Husin bin Muhammad Baharun dan sejumlah tokoh lainnya sejak tahun 1860 an. Gelar lengkapnya Kiai Ronggo Temenggung Tanu Karsa.

Terdapat beberapa pangkat yang pernah digunakan dalam bekas wilayah negara dependensi Kesultanan Banjar di bawah pemerintahan Hindia Belanda dari yang tertinggi sampai yang dibawahnya. Diantaranya adalah jabatan Regent yang dihapuskan tahun 1884. Kemudian Toemonggong, selanjutnya Ronggo yang berlangsung hingga dihapuskan 1905. Selain itu terdapat jabatan lain yakni Kiai dan Demang.

Pada masa Hindia Belanda, sistem Pemerintahan di Banjarmasin dibagi dalam dua bagian, pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah. Pada Pemerintahan Pusat dibentuklah Dewan Pengadilan yang mempunyai 8 orang anggota, yang terdiri atas orang Banjar, Dayak, Arab dan Tionghoa dan Residen.

Sedangkan Pemerintahan Daerah berkedudukan dikampung Kuin-Sungai Miai. Pejabat yang menjalankam pemerintahan adalah seorang Asisten Residen yang dibantu oleh Kontelir, Ronggo Temenggong Tanu Karsa, Mufti, Penghulu H, Poshouder dan wakil Poshouder di Mantuil. Kuin dijadikan daerah istimewa pada tahun 1864.

Ronggo Banjarmasin, Raden Tumenggung Suria Kasuma (foto oleh Hendrik Veen, 1860-1880). Sumber: Collectie Hendrik Veen in het Tropenmuseum — di Alalak Selatan.

Jabatan lain yang diemban Soeria Kasoema adalah anggota de Plaatselijke Inlandsche Schoolkomissie te Bandjarmassin. Dalam koran koran Java-bode edisi 15 November 1876, tertulis Mas tommonggong Soeria Kasoema, ronggo afdeeling Kween menjabat bersama Kamaloedin bin Nandoeng, anggota Landraad Bandjarmasin lainnya yang juga mendapatkan penghargaan.

Berdasarkan besluit 4 Oktober 1861 nomor 36 sebelumnya, Ronggo dari onderafdeeling Kween ini, yang yang juga Jaksa di landraad Bandjarmasin mendapatkan penghargaan medali emas untuk pengabdiannya.

Tahun berikutnya, karir Soeria Kasoema terus menanjak. masih dalam koran yang sama edisi tanggal 16 Mei 1877 dan De locomotief 19 Mei 1877, Inland Bestuur secara resmi memberikan gelar Raden untuk mas toemenggoeng Soeria Kasoema, Ronggo Afdeeling Banjarmasin dan wilayah sekitarnya (Afdeeling Borneo bagian selatan dan timur ) sebagai penghargaan atas jasanya dan memberikan kewenangan (lisensi) untuk pemakaian gelar tersebut dalam surat dan jabatannya di awal nama Soeria Kasuma.

Selain itu, Pemerintah Hindia Belanda juga mengangkat pejabat lainnya yakni distrikhoofd (kepala distrik) Martapoera, kiai Soeta Merta; dari Benoea Ampat, kjai Mohamah Tajib; dari Margasari, pangeran Koesumo Giri; serta pejabat lainnya.

Tumenggung Suria Kasuma ternyata sosok yang melek media. Citranya banyak terangkat lewat pemberitaan di koran. Satu diantaranya dari advetorial di Koran De locomotief edisi 8 Maret 1878. Pada tanggal 19 Februari 1878, peringatan tahun kelahiran Ratu Belanda, Raden Tumenggung Suria kesuma telah berjasa dalam menyukseskan acara tersebut.

Beliau telah melakukan pekerjaan sejati, bijaksana, sangat pandai menyukakan hati kepada orang isi negeri. Pada peringatan itu, Ronggo telah menggagah acara “permainan yang aneh aneh dan pantas” yang membuat orang “suka hati gamar dan girang”. Hiburan itu belum pernah digelar di Banjarmasin sebelumnya.

Ronggo Banjarmasin, Raden Tumenggung Suria Kasuma (foto oleh Hendrik Veen, 1860-1880). Sumber: Collectie Hendrik Veen in het Tropenmuseum — di Alalak Selatan.

Pada saat itu hari Selasa, 19 Februari 1878, sampai malam harinya diadakan pesta besar besaran di depan rumah Residen (di Kampung Amerongen-sekarang jalan Jenderal Sudirman, Banjarmasin) dengan hiasan ribuan lampu tanglong yang dirancang arsitek Dijkman. Acara itu dihadiri semua penduduk dari Suku Melayu, Arab, Cina, Bugis, Jawa, Kodja, Keling dan Dayak. Dengan kerjasama yang baik dalam mengadakan acara oleh Residen, Asisten Residen dan Raden Tumenggung Suria Kasuma acara berjalan aman, tanpa kerusuhan.

Rumah rumah penduduk yang datang menonton keramaian yang baru pertama kalinya di Banjarmasin itu, aman dari pencuri. Selain itu hal utama yang menjadi jasa Raden Tumenggung Suria kesuma yang telah menggagas acara dengan susah payah dan menanggung semua biaya mengadakan acara tersebut yang cukup besar dengan ukuran saat itu yakni Seribu Rupiah.

Setelah deretan sumber tersebut, pada tahun 1879 dan seterusnya cukup minim pemberitaan tentang Tumenggung Suria Kasuma. Hanya dari informasi dari sumber lisan, dipaparkan pada tahun 1885 Eisenberger menemukan naskah UUSA (Undang-undang Sultan Adam) yang disimpan dalam arsip Kantor Residen Banjarmasin yang ditulis oleh Tumenggung Soeri Ronggo (Tomenggong Ronggo Soeria Kasoema) tahun 1885. Publikasi pertama dari naskah Undang-undang Sultan Adam ini dilakukan oleh A.M. Joekes yang pernah menjabat sebagai Gubernur Borneo (1891-1894) di dalam Majalah Indische Gids tahun 1891.

Berdasarkan keterangan tersebut, kemungkinan besar Tumenggung Suria Kasuma masih menjabat ronggo hingga tahun 1893. Bataviaasch nieuwsblad 31-05-1893 menuliskan, Kiahi Mas Djaja Samoedra ditunjuk menjadi anggota Inlandsche Rechtbanken sebagai perwakilan landraad Banjarmasin, yang juga berkedudukan sebagai Ronggo dari divisi Banjarmasin dan Ommelanden. Analisanya, berdasarkan berita ini, tahun 1893 Tumenggung Suria Kasuma sudah digantikan posisinya sebagai ronggo oleh Kiahi Mas Djaja Samoedra.

Pintu gerbang makam, nisan, makam serta kolam peninggalan keluarga Ronggo Raden Tumenggung Suria Kasuma di Alalak Selatan, Banjarmasin. Sumber: koleksi pizap.com, opinibanjarmasin.blogspot.co.id, dan kabarbanjarmasin.com. — di Alalak Selatan.

Hal ini diperkuat sumber lainnya yakni Java-bode, edisi 15 Oktober 1895 dan De locomotief, edisi 17 Oktober 1895. Keterangan dari Departemen Sipil, bahwa diberikan hadiah bintang emas kecil untuk loyalitas dan jasa, sebagai tanda pengakuan layanan, kesetiaan, dalam jangka panjang untuk Kiahi Mas Djaja Samoedra, Ronggo divisi Banjarmasin dansekitarnya (Borneo bagian Selatan dan Timur).

Tidak tersdapat sumber mengenai masa akhir Tumenggung Suria Kasuma. Ronggo adalah kepala orang-orang Banjar pada zaman Belanda. Pangkat sederajat Ronggo ,tapi untuk golongan warga Arab dan Cina pada masa itu adalah Kapten Arab dan Kapten Cina. Pada dekade tahun 1870 an, Ronggo adalah pemimpin masyarakat pribumi dalam satu onderafdeeling.
Perubahan terjadi pada tahun 1898. Status Banjarmasin pada awalnya afdeeling menjadi onderafdeeling.

Struktur pemerintahan 1898, tersapat seorang Residen berkedudukan di Banjarmasin yaitu C.A. Kroesen. Sedangkan dalam Afdeeling Banjarmasin, terdapat jabatan Asisten Residen , Kepala polisi, jabatan Ronggo yang dijabat Kiahi Mas Djaja Samoedra, Luitenants der Chinezen, serta Kapitein der Arabieren. Kemudian setiap kampung Belanda dipimpin Wijkmeester. Sejak tahun 1898, jabatan ronggo, bertanggung jawab pada asisten residen.

Makam Raden Tumenggung Suria kesuma sekarang terletak di Jalan Alalak Selatan RT 03 Kelurahan Alalak Selatan, Banjarmasin. Selain makam terdapat peninggalan kolam yang diduga milik keluarga beliau.

 

Tulisan oleh : Mansyur, S.Pd, M.Hum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *