Peringatan Hari Peringatan Sampah Nasional (HPSN) di Kota Banjarmasin diselenggarakan pada tanggal 15 April 2018 namun kegiatan ini termasuk rangkaian acara kegiatan. Kaloborator Nyawa Sungai dan tim KAKIKota Banjarmasin melaksanakan kegiatan Piknik Tanpa Sampah saat HPSN Berlangsung. Kegiatan ini mengajak seluruh warga untuk menjawab sampah apa saja yang kami hasilkan, cara kami mengajak dengan membawa mereka turut ikut serta menuju tempat piknik kami, dengan langkah awal kami tantang “Coba sebutkan ada berapa sampah yang kami hasilkan?

 

sebelumnya kami menggelar berbagai sajian menu piknik lengkap nah disitulah kami menatang mereka. Hasil jawaban mereka pun beragam  hingga menyebutkan ada 31 sampah dan 0. Kemudian kami ajak untuk berpikir kembali “Menurut anda apa itu sampah?” banyak jawaban dari mereka terkait hal tersebut misalnya “Sampah adalah barang yang tidak terpakai lagi (Ungkap Andi, 15tahun)“. Diskusi semakin manarik ketika kami menanyakan ulang “misalnya, alam tidak pernah menghasilkan sampah? nah sekarang ada berapa sampah yang dihasilkan?

 ketika warga kami ajak berpikir lebih jauh ternyata mereka menyebutkan pengurangan angka sebelumnya tetapi ada yang berpendapat sama saja. Diskusi semakin menarik ketika semua warga menyaksikan dan berpendapat dengan antar group yang telah kami buat sebelumnya yang mempunyai pandangan berbeda mengenai sampah. Kami memang sengaja untuk membuat diskusi menarik, karena setiap genre atau usia memiliki pandangan dan kebutuhan dalam konsumsi mempunyai perbedaan, kita memang tidak bisa menyamakan konsumsi karena setiap warga punya pola produksi berbeda juga. Setelah diskusi yang panjang saatnya kita bersama-sama memecahkan masalah kita dengan pandangan kebutuhan keseharian. Analoginya kita menggunakan kantong plastik yang didalamnya berisi makanan berkuah pastinya akan berbeda dengan kita menggunakan kantong plastik yang berisi tidak basah, nah dari sini warga mempunyai asumsi, “Bagaimana kantong plastik yang basah itu kita cuci kembali terus digunakan?, ungkap seorang Ibu” lalu pendapat lain berkata, “memangnya kita selalu rajin untuk mencucinya?” ada perbedaan sudut pandang ketika kita menciptakan sampah kantong plastik banyak kita hanya memperpanjang usia kantong itu dengan mencuci atau menggunakan kantong plastik yang sama sampai rusak, nah disinilah kami kembali mendiskusikan bagaimana kalau pakai bakul purun atau tas. Berbeda lagi ketika kita menganalogikan minuman botol kemasan “bagaimana nih kalau kita minum menggunakan ini (botol plastik kemasan) kira kira apakah ini bisa jadi sampah? ” ketika diduskusikan ada jawaban warga “semuanya itu jadi sampah, tetapi bisa didaur ulang kan? jadi kreasi kreasi gitu, tetapi kalau digunakan sebagai botol minum, saya nggak mau!” warga memang dilema ketika kita mendiskusikan mengenai botol minum kemasan yang dimana produksi ini pasti jadi sampah, kami kembalikan lagi apakah kita mau terus terusan saat memproduksi kemudian dijadikan kreasi, semua senyum girang. Berbeda dengan kita membawa botol minum sendiri yang bisa diisi ulang kita lebih hemat dalam hal apapun apalagi kalau direncanakan secara matang, tetapi apakah warga mau repot untuk membawa tersebut, inilah yang kami tantang kepada mereka secara tidak langsung. Banyaknya bagian bagian konsumsi dari piknik lainnya misal seperti buah-buahan dan makanan yang terbungkus bahan alam dianggap ini sampah baik itu daun atau kulit padahal ini semua dari alam. Alam tidak pernah menghasilkan sampah, yang menghasilkan sampah adalah diri kita sendiri pola kebiasaan ini lah yang lambat laun semakin terbiasa apalagi ketika semua kepraktisan atau instan telah menjadi suatu hal yang kita anggap biasa saja tetapi tanpa kita sadari ternyata sampah kita mampu mendzolimi orang lain misal bau yang menyengat yang kita hasilkan, merusaknya suatu lingkungan, bahkan meresahkan tetangga sendiri. Dalam kegiatan HPSN itu berlangsung kami pun mengenalkan strategi 3 pintu kewarga yang telah kami pelajari sebelumnya yang dimana ada istilah pintu depan yaitu perencanaan, pintu tengah yaitu konsumsi dan pintu belakang pasca konsumsi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *